Tentang Bagaimana Kita Berteriak Memanggil Tuhan ke Langit Namun Menutup Telinga dari Rintihan Manusia di Bumi
Oleh Dr. Muhammad Ali Ridho
Direktur Pendidikan TIBS
"Manusia begitu fasih melafalkan nama Tuhan hingga bibirnya bergetar, namun mendadak lumpuh dan buta ketika harus merawat luka sesama manusia. Kita adalah hipokrit yang gemetar ketakutan membayangkan api neraka, tapi dengan sangat tenang menyalakan api penderitaan untuk saudara sendiri."
Kita telah mengubah agama menjadi sekadar daftar absensi di atas sajadah. Kita membangun menara kesalehan vertikal yang menjulang menembus awan, tetapi membiarkan pondasi kemanusiaan kita keropos dimakan ego. Kita mengira bahwa Tuhan hanya bisa ditemui di dalam rumah ibadah yang megah atau di sela-sela untaian tasbih yang berputar cepat. Di saat yang sama, kita lupa bahwa kehadiran Tuhan justru sering memantul di mata orang-orang yang kelaparan, tertindas, dan terluka oleh lisan maupun tindakan kita.
Betapa ironis cara kita mengajukan proposal keselamatan kepada langit. Kita memohon agar dibebaskan dari siksa, sementara tangan kita sendiri sibuk menjadi penyebab penderitaan bagi orang lain di bumi. Kita mengira ibadah ritual adalah perisai yang cukup untuk mengamankan tempat di surga, padahal esensi agama yang sejati adalah kemampuan untuk merawat, melindungi, dan memeluk mereka yang sedang terluka.
Jika hafalan ayat dan rapalan doa tidak membuat hati kita lebih lembut kepada sesama ciptaan-Nya, maka sesungguhnya kita perlu bertanya kembali kepada diri sendiri: untuk apa semua itu dilakukan? Sebab ibadah yang sejati bukan hanya soal hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, melainkan juga tentang bagaimana hubungan itu memancar dalam sikap kita terhadap sesama.
Terlalu sering kita bersembunyi di balik simbol-simbol kesalehan. Kita mengenakan jubah kesucian, tetapi menutup mata terhadap kesedihan yang terjadi di sekitar kita. Kita takut pada api neraka yang belum tentu kita lihat, namun tanpa sadar menjadi penyebab api penderitaan yang nyata dirasakan oleh orang lain hari ini.
Karena itu, sebelum kembali menengadah meminta surga, ada baiknya kita berkaca pada genangan air mata yang mungkin pernah kita sebabkan. Sebelum memohon rahmat Tuhan, mari bertanya apakah kehadiran kita telah menjadi rahmat bagi manusia di sekitar kita.
"Manusia begitu fasih melafalkan nama Tuhan hingga bibirnya bergetar, namun mendadak lumpuh dan buta ketika harus merawat luka sesama manusia. Kita adalah hipokrit yang gemetar ketakutan membayangkan api neraka, tapi dengan sangat tenang menyalakan api penderitaan untuk saudara sendiri."